Awal cerita ini dimulai pada masa pemerintahan Raja Manik Sudharma Raja dari kerajaan Martaka Kiraya Jaya atau kerajaan Matraya. Dalam 12 tahun kepemimpinannya beliau termasuk raja yang bijaksana dan cinta akan perdamaian.
Ini adalah hari ke-7 peperangan berlangsung. Peperangan antara Kerajaan Matraya dan Aganda yang merupakan dua kerajaan yang bertetangga. Meski bertetangga namun kehidupan terutama rakyat di kedua kerajaan ini sangatlah bertolak belakang. Matraya dengan
kesuburan dan kekayaan alam yang melimpah berbanding terbalik dengan kehidupan di negeri Aganda yang seakan tak ada harapan untuk seekor burung kecilpun hidup. Hal ini pula yang menimbulkan rasa iri hingga terjadi pergesekan diantara kedua negeri tersebut.
Dahulu kala, sebenarnya Matraya dan Aganda adalah satu kerajaan besar yang makmur dengan kehidupan rakyatnya yang terjamin. Martayupaja begitulah sejarah mencatat. Namun keegoisan dan keserakahan di antara para tokoh kerajaan dan keluarga kerajaan yang terpecah mengakibatkan sengketa yang berkepanjangan yang memicu berkibarnya bendera perang saudara antara kubu Pangeran Rendra Yana dan adiknya Pageran Daha Suratmadijaya.
Bertahun pergesekan berlangsung di antara kedua pangeran ini. saudara lain ibu ini tepengaruh oleh ambisi dari keluarganya masing-masing yang menginginkan tahta diteruskan oleh keturunan mereka. selepas meninggalnya raja pergesekan menjadi semakin panas. Rakyat mulai merasakan kesengsaraan akibat pergolakan di keluarga dalam. merasakan hal yang sudah tak wajar lagi para tokoh, tetuah dan sesepuh dari kalangan masyarakat berkumpul dan menemui 3 orang Paka (tokoh yang diaggap suci dan agung) yaitu Rsi Reksa Indra, Cariya Bratha Sukma dan Dewiya Sri Kinara agar mengambil tindakan untuk menghentikan kekacauan yang ada di keluarga kerajaan. Rsi Reksa Indra dan Cariya Bratha Sukma menolak mencampuri urusan keduniawian karena mereka talah meninggalkannya dan tak ingin melakukan perbuatan kotor lagi. Dewiya Sri Kinara awalya juga melakukan hal yang sama, namum melihat penderitaan rakyat yang sedemikian, akhirnya beliau bersedia membantu meredakan gejolak di keluarga dalam.
Di malam purnama ke-5 beliau mendatagi istana dengan membawa sebuah kendi berisikan air cucian beras. Dipanggilnya kedua kubu yang bersengketa di tengah halaman istana di bawah pohon Oak dan keduanya disuruh meminum air yang ia bawa yang disebutnya susu. Setelah meminumnya kedua pangeran disuruh mengatakan seperti apa rasa minuman itu. Keduanya mengatakan itu susu paling tidak enak yang pernah mereka rasakan. Di sana Dewiya Kinara menerangkan bahwa rasa seperti itu masih jauh lebih ringan dari apa yang rakyat rasakan diluar sana. "Bahkan jika seorang tak bisa merasakan manisnya susu yang ia minum apakah ia pantas disebut seorang pemimpin?" kedua pangeran hanya terdiam namun sangat jelas dari mata keduanya tidak ada etikat untuk mencoba memahami. hanya amarah dan ambisi yang mereka tebarkan. melihat hal ini Dewiya Kinara mengambil sebuah keputusan bahwa jika tidak ada diantara keduanya yang bersedia memberikan tahta pada yang lain maka keduanya harus memegang tahta.
Sentak keduanya terheran. bagaimana bisa satu tahta dipegang oleh dua raja sekaligus. sungguh itu adalah hal yang tidak mungkin. keduanya lebih memilih untuk melakukan pertarungan kelayakan dimana yang menang adalah yang akan menduduki tahta. mendengar pernyataan itu Dewiya merasa terhinakan. bahkan dihadapannya mereka masih berani membicarakan pertarungan dan kepantasan. ia sadar bahwa kedua pangeran dihadapannya tidak memiliki kepantasan untuk hal apapun yang mereka sebut sebuah kepemimpinan.
Dewiya menegaskan bahwa tidak akan ada sebuah pertarugan untuk membuktikan apapun. Di hadapan terang bulan Dewiya Kinara membagi Kerajaan Martayupaja menjadi dua yaitu Kerajaan Martaka Kiraya Jaya yang dipimpin oleh Pangeran Daha Suratmadijaya dan kerajaan Aganda Dwi Umidya yang dipimpin Pangeran Rendrayana. dan tempat mereka berdiri adalah batas dari kedua wilayah yang nantinya menjadi kerajaan Matraya dan Aganda. Kaduanya diminta masuk kedalam wilayah yang telah ditentukan, berikut pengikut dan rakyat yang mempercayai masing-masing kubu. Setelah semua berdiri di tempat yang mereka pilih. maka dibakarlah Istana berikut hutan yang menjulur mebagi kedua wilayah baru tersebut. Peristiwa ini dikenal dengan nama "Sekar Aga". Yang dimaksud adalah bunga yang diharapkan akan tumbuh dari puing-puing yang hangus terbakar.
Namun pada kenyataannya hingga kini perpindahan kekuasaan berpindah dan berpindah tangan masih tetap saja sengketa yang dulu diredam, tersulut oleh iri hati manusia di dalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar