Pertempuran hari ke-7 ini keadaan medan perang sudah semakin kacau. Pasukan Matraya semakin kewaahan menghadapi serangan pasukan berkuda Aganta yang memang terkenal pilih tanding. Dengan keadaan sepeti ini, Maha Patih Yudira Angkaria membuat siasat agar jalan utama menuju istana dikosongkan untuk memancinga serangan musuh hanya ke satu titik saja.
Jalan utama menuju Istana yang dimaksud adalah jalan terbuka yang terbentang lurus membelah hutan Kinara tegak lurus dengan batas kedua wilayah kerajaan. Siasat yang dibuat Maha Patih adalah
menarik pasukan berkuda musuh masuk ke jalur utama yang dipagar oleh rapatnya pohon-pohon hutan kinara. Hal ini akan menguntungkan para prajurit panah dan prajurit serangan jarak dekat karerna medan yang sempit dan masih
rimba.
Di jalur tersebut akan dipasang jebakan yang nantinya akan memaksa para pajurit pasukan berkuda musuh untuk turun dari kudanya. Dan untuk lebih meyakinkan itu bukan sebuah jebakan, dibuat sebuah sekenario yang membuat seolah pasukan diperbantukan ke bagian pertahanan istana lain yang kewalahan menghadapi serangan, dengan tetap menempatkan beberapa prajurit penjaga sebagai figuran sekaligis para sandi yang memberikan isyarat serangan.
Para prajurit muda yang masih dalam pelatihan juga dikirimkan ke berbagai penjuru kota sampai desa-desa kecil yang jaraknya terjangkau dampak perang untuk mengantisipasi hal yang mungkin terjadi dari strategi perang tersebut.
***
Jalak Sena, adalah salah seorang dari prajurit muda yang mendapat tugas pengamanan pertamanya di sebuah desa kecil, Desa Kalunta. Di usianya yang masih 14 tahun, dia diangkat menjadi kepala pasukan membawahi 7 prajurit muda lainnya mengawal rakyat di Desa Kalunta, tentunya dengan satu prajurit pembimbing senior yang mendampinginya.
Di sela tugas, selayaknya anak muda yang dihinggapi rasa ingin tahu yang tinggi, Sena muda sering berkeliling melihat-lihat keadaan desa tersebut. Membuang rasa jenuh yang sering menerpa saat tugas jaga berganti atau disaat tidak ada kegiatan. Dengan pos-pos yang didirikan untuk satu prajurit mengawasi keadaan terkadang dia berkeliling dari satu pos ke pos lain melihat apa perkembangan yang mungkin terjadi.
Suatu hari dia mendengar sebuah alunan seruling yang merdu dari arah sebuah pohon besar di pinggir danau yang indah dipenuhi burung-burung air yang dengan indahnya terbang berkeliling mencari makan. Namun hendak saja dia melangkah mendekat, alunan itu berhenti begitu saja seakan tak mengharapkan kehadirannya. “Sri.. Sri..” panggil seorang nenek tua dari sebuah rakit tua di tengah danau. Dari balik pohon besar itu terbangun seorang gadis dari duduknya. Dia menggenggam sebuah seruling bambu di tangan kirinya. Bola matanya sekilas saja menatap Sena denga dingin dari sudut mata yang sempit tanpa menoleh sedikitpun. “ iya nek, aku datang..” jawabnya berjalan masuk ke air. Dan keduanya mendorong rakit jauh meninggalkan tepi danau menuju sebuah daratan di tengah danau yang mungkin tempat tinggal mereka. sejak saat itu Jalak Sena selalu datang ke danau itu mendengar permainan seruling merdu dari kejauhan.
Tidak mengherankan, meski kepemerintaha Raja Manik termasuk pemerinthan yang adil dan tidak membebani rakyat namun kebanyakan rakyat memandang prajurit istana adalah orang-orang yang harus dijauh. itu karena tidak adanya pemerataan sehingga mayoritas yang bisa masuk menjadi prajurit kerajaan adalah kalangan bangsawan dan keturunan tetuah saja. sebenarnya tidak ada aturan yang membuat semua itu berlaku namun dari pengelola keprajuritan saja yang membuat sekenario seperti itu agar keluarga bangsawan tetap menjadi keluarga-keluarga yang dihormati di luar istana. Selain itu hubungan kaum bangsawan dan kaum rakyat biasa pun tidak terlalu baik sehingga membuat kesan batasan pemisah diantara keduanya. hal ini juga yang belum dapat dipecahkan dalam kepemimpinan Raja Manik hingga saat itu.
Hari lain Jalak Sena seperti biasa, di sore hari ketika selesai tugas, mulai berjalan-jalan ke pinggiran danau. Sesampainya di tempat biasa ia heran mengapa tidak ada suara seruling yang biasa didengarnya. ia menatap ke arah pohon besar di pinggir danau.Rasa penasarannya mulai tumbuh. ia mendekat selangkah demi selangkah melihat yang ada di balik pohon tersebut. Berjalan pelan namun tidak mengendap-endap mengisyaratkan kedatangannya dengan damai. Seolah berjalan tanpa tujuan sesekali ia terdiam memperhatikan kupu-kupu yang hinggap di hamparan bunga di sana, atau tersenum seolah menatap luasnya langit dengan bahagia.
Sampai di ujung jalan yang ditempuhnya ia tak langsung menengok ke arah pohon namun melangkah ke arah danau dan mengambil air untuk sekedar membasuh muka. sekembalinya barulah ia menatap pohon tempat gadis yang biasa ia lihat itu duduk. Di sana hanya ada sebuah seruling bambu yang disandarkan pada punggung pohon. Tersenum setengah heran, ia mulai mendekat dan melihat lebih seksama. Baru saja ia mengulurkan tangannya untuk mengambil seruling itu seseorang berkata menahannya, "maaf tuan, tapi sebaiknya anda tidak menyentuhnya.." dari atas pohon gadis itu melompat mengejutkan Jalak Sena. "mmm.. maaf.. aku tidak bermaksud seperti itu" sedikit tergagap. Gadis itu mengambil serulingnya "saya tahu.. dari tadi saya memperhatikan tingkah anda" mengencangkan ikat kepalanya dan berlalu menuju sebuah rakit di tepian danau, "saya juga tahu anda selalu ke sekitar sini keteka sore hari" lanjutnya, berjalan. "mm.. maaf jika itu mengganggumu" Jalak Sena berjalan mengikuti dari belakang. Gadis itu menghentikan langkahnya, menoleh kearah Sena "saya tidak merasa seperti itu, hanya saja terkadang saya butuh suasana sunyi untuk sendirian" ucapnya menjelaskan, ia lalu menaiki rakitnya dan melepas tali pengikat yang menjaga agar rakit tetap di tempatnya. "tunggu, jika boleh aku ingin bertanya, siapa namamu?". gadis itu tidak menjawab dan mendorong rakitnya dengan sebilah bambu.. setelah dua dorongan baru sebuah kaliamat terucap dari mulutnya. "Sri, bukan permata dari istana atau pun busur para pemburu. Anom Kencana". meski lirih namun Jalak sena tetap bisa mendengarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar