• Tepas
  • Action
    • Karya ini menggambarkan kekerasan, kekacauan dan aksi-aksi perkelahian.

  • Classic
    • Karya ini berbau masa lalu, sejarah, atau mengisahkan jaman kerajaan atau perjuangan.

  • Comedy
    • Karya dramatis berbau humoris dan ringan, mengandung pemecahan masalah, atau kesimpulan yang bahagia akan sebuah konflik.

  • Doujinshi
    • Karya ini dibuat berdasarkan suatu cerita, anime atau manga resmi tertentu namun memiliki jalan cerita yang berbeda dari cerita resminya. 'cerita buatan penulis berdasarkan cerita asli/resmi'

      .
  • Drama
    • Karya yang ditujukan untuk menarik emosional pembaca, seperti rasa sedih atau ketegangan.

  • Horror
    • Karya ini dipenuhi emosi semacam ketakut, kekhawatiran, dan kebencian. emosi yang ditimbulkan oleh sesuatu yang menakutkan atau mengejutkan.

  • |

  • Fiksisasi Hidup
    • Karya ini merupakan karya fiksi yang diangkat berdasarkan kehidupan penulis. tokoh dalam cerita ini merupakan tokoh yang memang ada di dunia nyata namun sifat tokoh terkadang dibuat berbeda dengan kenyataannya.

  • Narasisasi Lagu
    • Karya ini merupakan narasisasi dari sebuah lagu tertentu berdasarkan imajinasi penulis

Minggu, 17 Januari 2016

Jalak Anggun : CAP 3 ( Sena Jaya )

Sementara itu perang masih bergejolak di perbatasan. Ini adalah hari ke-15 perang berkecambuk. Siasat untuk menghadapi para pasukan berkuda berhasil melumpuhkan serangan. Namun prajurit-prajurit pelarian tumpah ke perkampungan rakyat. Para prajurit penjaga sudah diperintahkan  untuk meningkatkan kewaspadaan. Bersiap meghadapi semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Para pasukan pengejar pun dikerahkan.

Di sisi lain medan perang, sungguh banyak jiwa yang terbujur, memeluk bumi menyatu dangan tanah. Beberapa prajurit hingga bangsawan yang memiliki pengaruh di pemerintahan dan istana dalam pun menjadi korban. Dan entah kapan perang akan usai, yang membuat sang Raja sedikit risau. Raja Manik adalah satu-satunya Raja dari garis kepemimpinan Matraya yang tak pernah ikut berperang. Bahkan dikatakan beliau tak bisa menggunakan senjata. Meski demikian kabar lain yang beredar beliau bukan tidak bisa mengayun pedang atau menarik tali busur namun saat di medan perang beliau seperti singa yang mengamuk dalam kepungan hyena, beliau sering kali lupa diri hingga entah itu kawan atau lawan semua diserang tanpa ampun.
***
Kabar tumpahnya Prajurit pelarian ke pemukiman warga telah sampai ke semua pasukan penjaga yang ditempatkan di seluruh daerah perbatasan, termasuk pasukan di desa Kalunta tempat Sena bertugas. semua warga diminta untuk tetap waspada dengan semua kemungkinan. Hingga petang datang sejak kabar itu diterima semua bersiaga di tempat yang mudah terkordinir.

Dan ketika sang surya mulai tenggelam menutup matanya dengan perlahan, gemuruh kaki kuda yang berlari terdengar dari arah timur. Sekitar 15 sampai 20 penunggang kuda datang dengan pedang terhunus. Semua penerangan di desa dipadamkan dan setiap laki-laki dibagi menjadi beberapa kelopok yang dipimpin oleh seorang prajurit untuk memberikan sebuah perlawanan dari kedatangan mereka yang membabi buta.

Sesuatu yang terlupakan adalah bahwa di seberang danau ada satu rumah yang tidak mendapat  kabar kedatangan para pelarian perang itu, hingga perhatian dikhawatirkan akan tertuju pada satu titik di sana. Sena yang menyadari hal itu lantas mengajukan usulan agar dirinya dikirim sebagai utusan untuk menjaga rumah tersebut. Prajurit pembimbing pun menyetujuinya. Seorang diri ia mengarungi danau degan rakit yang berada di tepian danau menuju sesuatu yang dia anggap berharga.

Namun pergerakannya diketahui para Prajurit pelarian yang bergerak dekat dibelakangnya. puluhan anak panah dengan mata terbakar api menghujani rakit yang dinaikinya hingga ia tak bisa berkutik. hanya satu dua langkah saja yang bisa ia lakukan untuk menghindari hujan anak panah yang semakin deras mendera. Kala itu dia berpikir mungkin ia akan mati di sana. namun pikirannya berbalik. Insting seorang prajurit handal mulai tumbuh dalam dirinya.

Sena cukup sadar bahwa para Prajurit itu hanyalah prajurit pelarian yang berlari dari mautnya dan menumpas apa saja yang mereka temui namun tidak ada tujuan atas satu target. dan dirinya telah mengarahkan mereka pada jalan buntu. ia sadar kuda, setangguh apapun itu dia tak akan selihai ikan saat dihadapkan dengan air. maka jika ada serangan dari belakang mereka tidak ada celah untuk kabur. Dan di tempat itu memang hanya ada 10 prajurit pemula dan 1 prajurit senior pembimbing, memang tidak sepadan. namun malam menguntungkan posisi mereka ditambah jumlah penduduk yang lebih banyak. di malam hari baik itu rakyat ataupun prajurit baik itu senior atau junior, hasilnya akan sama saja. maka tinggal menggarahkan semua kekuatan ke fokus itu, semua akan selesai.

Sena meniup terompet yang dibawanya sebagai kode morse, mengisyaratkan semua untuk pergi ke arah danau namun berbeda dengan penggilan berkumpul pada umumnya. itu agar para prajurit pelarian tetap pada posisi mereka. prajurit pembimbing yang mendengar isyarai itu menyadari apa yang dimaksudka oleh Sena dan semua kekuatan di arahkan ke arah danau. terang saja, melihat para prajurit pelarian yang berkumpul di tepian, semua langsung mengepung menutup celah jalan untuk melarikan diri. dan tak lama pasukan pengejar pun datang. dengan itu semua prajurit pelarian tertangkap dan dibawa ke pengadilan istana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar