• Tepas
  • Action
    • Karya ini menggambarkan kekerasan, kekacauan dan aksi-aksi perkelahian.

  • Classic
    • Karya ini berbau masa lalu, sejarah, atau mengisahkan jaman kerajaan atau perjuangan.

  • Comedy
    • Karya dramatis berbau humoris dan ringan, mengandung pemecahan masalah, atau kesimpulan yang bahagia akan sebuah konflik.

  • Doujinshi
    • Karya ini dibuat berdasarkan suatu cerita, anime atau manga resmi tertentu namun memiliki jalan cerita yang berbeda dari cerita resminya. 'cerita buatan penulis berdasarkan cerita asli/resmi'

      .
  • Drama
    • Karya yang ditujukan untuk menarik emosional pembaca, seperti rasa sedih atau ketegangan.

  • Horror
    • Karya ini dipenuhi emosi semacam ketakut, kekhawatiran, dan kebencian. emosi yang ditimbulkan oleh sesuatu yang menakutkan atau mengejutkan.

  • |

  • Fiksisasi Hidup
    • Karya ini merupakan karya fiksi yang diangkat berdasarkan kehidupan penulis. tokoh dalam cerita ini merupakan tokoh yang memang ada di dunia nyata namun sifat tokoh terkadang dibuat berbeda dengan kenyataannya.

  • Narasisasi Lagu
    • Karya ini merupakan narasisasi dari sebuah lagu tertentu berdasarkan imajinasi penulis

Rabu, 20 Januari 2016

Jalak Anggun : CAP 4 (Candra Purnama)


Sena terkena beberapa anak panah di tubuhnya. Meski bukan di bagian yang mematikan namun itu cukup menguras darah dan kesetabilannya. Dia tergeletak lemas di atas rakit yang perlahan bergerak menuju ketepian lain danau. Sena masih sadar, mengedip-kedipkan matanya menatap langit yang cerah dan bulan sempurna yang menyinari tubuhnya dengan sinar sendu. Pedang dalam genggamannya mulai tak bisa dirasakan dan semua seakan hilang ditelan waktu. "Jadi seperti inikah akhir hidupku?" Gumamnya sambil menatap bulan yang terasa lebih besar dari biasanya itu. "Bulan yag indah" lanjutnya. Perlahan pandagannya kabur dan ia tak ingat lagi apa yang terjadi.

Saat pagi hari ia dibangunkan oleh sinar mentari yang memancar dari celah jendela. Dengan keadaan masih setengah sadar dia mencoba bangkit dari tidurnya. Ia mulai sadar dan terheran mengapa ia berada disebuah ruangan seperti gubuk yang seharusnya
s
emalam ia masih di tengah danau dengan rakit tua yang ia bawa. Tak lama Anom Kencana masuk membawa ramuan yang entah apa namanya “anda sudah sadar? Tuan.. sebaiknya jangan bergerak terlalu banyak dulu.. luka anda masih baru dan masih dalam tahap pengobatan” ucapnya, duduk disebelah Sena. Satu demi satu luka yang ada di tunuh Sena dibalutnya dengan ramuan  yang ia bawa. Sena benar benar-merasa ia bukan gadis yang pernah ditemui sebelumnya. Dia pribadi yang berbeda.

Setelah selesai Anom pun beranjak menuju ke luar, “Tunggu!” tahan Sena, Anom menghentikan langkahnya tanpa menoleh, ia hanya berdiri dengan mata melirik saja. “ada di mana aku?” lanjut Sena, belum saja Anom menjawab pertanyaannya dua orang tua, laki-laki dan perempuan masuk ke rungan tersebut, mereka sejenak berbicara dengan Anom memastikan sesuatu. Dan entah mengapa Anom selalu dipanggil Sri.

Kedua orang tua itu mendekat ke arah Sena, mereka bertanya dengan ramah menanyakan keadaannya. Mereka memperkenalkan diri sebagai kakek dan nenek Palah. Diceritakannya semalam Sena ditemukan tak sadarkan diri di tepian danau dengan luka dan panah yang tertancap. Kakek Palah yang mendapati itu langsung membawanya ke pondok dan mengelurkan racun dari anak penah yang tertancap ditubihnya itu. “Prajurit istana? aku harus kembali..” ucap Sena spontan saja teringat bahwa dia sedang dalam tugas. Kakek itu juga menjelaskan bahwa semalam beberapa prajurit datang ke pondok menanyakan keberadaannya. Dan ketika melihat keadaan Sena yang seperti itu mereka menitupkan Sena agar mendapat pengobatan di sana karena tenaga dan sarana medis yang kurang di medan.

Beberapa hari Sena menjalani pengobatan di Gubuk sederhana milik Kakek dan Nenek Palah. Dengan sambil terus berlatih, meregangkan otot yang kaku setelah tertidur beberapa  hari. Sesekali Anom mengantarkan mekanan sambil sesekali mengingatan agar tidak terlalu keras berlatih maski dangan nada yang datar seperti biasanya. Sena sadar Anom adalah seorang yang memiliki perhatian hanya saja cara penyampaiannya yang berbeda.

Hingga hari ke-19 perang Sena masih menetap memulihkan keadaanya. Ingen rasanya segera kembali ke medan tugas dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang prajurit. Namu seorang prajurit yang lemah dan memaksakan untuk bertigas adalah pelanggaran kode etik prajurit dan itu dianggap sebuah penghinaan dunia ksatria. Sena sangat sadar akan hal  itu dan memegang teguh prinsip seorang prajurit.

Suatu malam, dari celah jendela Sena melihat Anom tengah duduk di luar menghadap danau. Melihat hal itu ia pun keluar mendekati Anom. “apa yang sedang kau lakukan di malam seperti ini?” sapa Sena dan duduk di sebelahnya. Anom menengok setengah kaget,  “tuan? Mengapa anda keluar kamar? Beristirahatlah, bukankah anda harus segera pulih?” ucap Anom sedikit lebih lembut dari biasanya. “terkadang seseorang juga butuh udara segar untuk pulih dari kejenuhan, dan beristirahat bukan berarti harus tidur terus di kamar”. Anom mengalihkan pandangannya, ia tersenyum manis.. satu hal yang baru dilihat Sena sejak awal pertemuan mereka. Anom menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Ia berdiri, merentangkan tangannya dan menatap langit. “ dari sini kita bisa melihat semuanya.. semua kehidupan yang ada di sekitar kita. Orang berlayar dengan perhu mengarungi samudra lalu kembali, langit terang di siang lalu gelap kembali. Bukankah itu kehidupan?” sebuah ucapan yang membuat sena tertegun. Saat ia menatap ke atas, Purnama menyinari mereka dengan kesejukan. “jika sekarang purnama, lalu apa yang ku lihat malam itu?" Benak sena.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar