• Tepas
  • Action
    • Karya ini menggambarkan kekerasan, kekacauan dan aksi-aksi perkelahian.

  • Classic
    • Karya ini berbau masa lalu, sejarah, atau mengisahkan jaman kerajaan atau perjuangan.

  • Comedy
    • Karya dramatis berbau humoris dan ringan, mengandung pemecahan masalah, atau kesimpulan yang bahagia akan sebuah konflik.

  • Doujinshi
    • Karya ini dibuat berdasarkan suatu cerita, anime atau manga resmi tertentu namun memiliki jalan cerita yang berbeda dari cerita resminya. 'cerita buatan penulis berdasarkan cerita asli/resmi'

      .
  • Drama
    • Karya yang ditujukan untuk menarik emosional pembaca, seperti rasa sedih atau ketegangan.

  • Horror
    • Karya ini dipenuhi emosi semacam ketakut, kekhawatiran, dan kebencian. emosi yang ditimbulkan oleh sesuatu yang menakutkan atau mengejutkan.

  • |

  • Fiksisasi Hidup
    • Karya ini merupakan karya fiksi yang diangkat berdasarkan kehidupan penulis. tokoh dalam cerita ini merupakan tokoh yang memang ada di dunia nyata namun sifat tokoh terkadang dibuat berbeda dengan kenyataannya.

  • Narasisasi Lagu
    • Karya ini merupakan narasisasi dari sebuah lagu tertentu berdasarkan imajinasi penulis

Selasa, 26 Januari 2016

Jalak Anggu : CAP 6 ( Senapati )


Hari ke-24 perang, Sena sudah pulih total, itu artinya Sena harus kembali ke medan tugas. berapa lama ia meninggalkan tugas untuk pemulihan. Hari-hari yang cukup berharga untuk lebih mengerti tentanga arti perjuangan dan pengorbanan.dan sebuah arti yang baru, keluarga kedua di luar keluarga.

"Ada berapa hal yang berharga menurutmu dalam kehidupan ini?"
"Entahlah tuan, tak ada yang menurut saya berarti lebih dari diri saa"
"seperti itu ya.."
"ya.. bagi  saya yang paling berharga dalam kehidupan adalah diri saya sendiri. dan melihat orang disekitar saya terluka itu membuat saya merasa sakit, dan saya sangat tidak suka merasakan sakit"

Sena sangat mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Anom saat pembicaraan itu. dan satu dari bagian hidupnya menjadi lebih berarti untuk dipertahankan. Anom adalah gadis dari kalangan biasa yang bisa mengubah cara pandangnya tentang kehidupan dan penilaiannya tentang rakyat yang tak selaras dengan apa yang diterimanya di biro pendidikan. kehidupan yang sebenarnya tidak bisa dipelajari dalam sebuah rumusan pelajar, namun sebuah hal yang dipelajari dengan menyelaminya secara langsung. Sena berangkat dengan senyuman dan semangat yang berlipat. sesampainya di tepi danau, "Aku harap kita bisa bertemu kembali" ucap Sena pada Anom yang mengantarnya ke tempat di mana mereka pertama bertemu. "tuan, jangan perna mati untuk hidup orang lain, perjuangan bukan tentang mengorbankan diri untuk orang yang berarti dalam hidup kita. perjuangan adalah mempertahankan diri agar bisa selalu hidup dengan mereka." jawab Anom, mengikat rakitnya. Belum saja mereka berbicara lebih banyak, anak-anak desa datang mengelilingi Anom seakan bertemu sang idola, Sena hanya terenyum "jaga juga mereka, untuk negeri ini" ucapnya, berlalu.

Anom membuat suatu catatan tentang pertemuannya dengan Sena, ia tak sampai berpikir mereka akan bertemu kembali, dianggapnya hari-hari itu adalah pertemuan pertama dan terakhir untuk mereka. kehidupan yang dijalaninya adalah kehidupan di desa kecil yang penuh harapan, yang ia harapkan dari sana akan muncul perubah perubah  yang akan merubah masa depan.



***
"komandan, Jalak Sena, Kepala Prajurit Pasukan Camar Biru siap masuk medan tugas kembali" Kedatangan Sena disambut baik, terutama oleh pasukannya yang seakan kehilangan pemimpinnya. Prajurit pembimbing memberikan kabar yang baru diterimanya dari pasukan utama di medan perang bersamaan kedatangan merpati kabar saat Sena kembali bertugas. Kabar yang diterima adalah bahwa pasukan utama yang dipimpin langsung Maha Patih sudah hampir bisa memukul mundur paskan musuh. pasukan-pasukan penjaga diminta untu membantu menambah kekuatan masuk ke medan perang, ini juga sebagai sebuah pelatihan bagi prajurit muda untuk mengerti bela negeri.

Fajar menyingsing semua prajurit penjaga sudah sampai ke pos utama dan mendapat arahan Panglima perang saat itu. ditekankan pada meraka bahwa hari itu perang harus sudah usai. sudah terlalu banyak ibu yang kehilangan anaknya, terlalu banyak istri yang kehilangan suaminya. dan terlalu banyak darah dan air mata yang tertumpah. semua membulatkan tekad mengerahkan seluruh kekuatan untuk membela negeri menuntaskan perang yang telah 24 hari berlalu. Bagi Sena itu adalah perjuangan mempertahankan diri untuk semua yang ia anggap berarti. dia teringat perkataan Anom saat perpisahan mereka.

Serangan dimulai. peperangan yang akan sangat berat terutama bagi para prajurit pemula. pertempuran yang akan sangat melelahkan dan menguras konsentrasi. kehilangan nyawa akan menjadi hal yang wajar dalam pertempuran namun bukan hal yang bisa dimaklumi. kemenangan adalah hal yang mutlak arus dicapai di hari itu namun Sena menekankan pada pasukannya agar keselamatan yang diutamakan, tidak ada satu anggota pun yang boleh dikorbankan

Siang hari  semua prajurit sudah sangat kelelahan. namun bagi kedua pihak ini adalah peperangan yang menentukan. dari sisi Aganda ini merupakan serangan pembalikan kedaan. dan di sela kelelahan itu Sena melihat rombongan pasukan Aganda yang beralih haluan menuju hutan. setelah beberapa lama barulah Sena menyadari bahwa itu adalah jalan menuju istana. Ia mengisaratkan kepada pasukannya untuk melakuakn pengejaran. ia juga memberi kode kepada prajurit pembimbingnya agar membantu bengan pasukan tambahan. Prajurit Pembimbing menerima isyarat itu namun perang di medan utama masih sangat riskan ditariknya sejumlah pasukan.

dengan kondisi seperti ini tidaklah mungkin menecah konsenrasi prajurit yang sedang berperang. selain itu menarik banyak prajurit untuk pengejaran sama saja mengurangi kekuatan di medan utama perang. Sena lantas memutuskan untuk melakukan pengejaran dengan kekuatan pasukannya sendiri. hingga ia dan pasukannya berhasil menghadang mereka.

Pertempuran pun terjadi di jalan menuju kerajaan, 10 prajurit muda termasuk Sena tersudut dalam kepungan musuh yang berjumlah sekitar 25 orang. Sena sangat kebingungan mencari jalan untuk lepas dari keadaan tersebut. di sela kebingungan dan ujung keputus asaannya ia mengingat kembali perkataan yang dikatakan Anom hari itu. dia mengingatsemua kejadian yang ia jalani saat masa pemulihannya, lalu keluarga, istana, dan hal yang terpenting dalam sebuah perjuangan. "tidak akan ada yang dikorbankan di dalam pasukanku!!" teriaknya.. "kehidupan, perjuangan kita adalah untuk sebuah kehidupan, untuk bisa tertawa bersama dengan orang yang kita sayangi, bukan tidak ada kesempatan untuk menang, hanya harus ada jalan untuk sampai padanya.. dan aku, kita yang akan membuat jalan itu" lanjutnya meyakinkan.. Semuanya mulai tersadar dan mulai tumbuh sebuah harapan dan semangat dalam keterdesakan mereka.

Sabtu, 23 Januari 2016

Jalak Anggun : CAP 5 ( Dharma Citra )

Pagi hari sekali Sena sudah berlatih di tempat biasa ia melakukannya. Pedang rotan menemaninya dalam dingin udara yang menusuk sampai ke tulang. Cepat pulih, cepat kembali kedalam tugas dan melindungi hal-hal baru yang terasa berharga.

Menjelang terang, saat alam hanya terlihat kaki-kaki pohon saja, Anom melintas di belakang Sena yang sedang berlatih, membawa keranjang kosong berjalan ke belakan pulau. "kemana kah kau akan pergi?" Sena menghentikan ayunan pedang rotannya. "saya kira tuan tidak menyadari keberadaan

Rabu, 20 Januari 2016

Jalak Anggun : CAP 4 (Candra Purnama)


Sena terkena beberapa anak panah di tubuhnya. Meski bukan di bagian yang mematikan namun itu cukup menguras darah dan kesetabilannya. Dia tergeletak lemas di atas rakit yang perlahan bergerak menuju ketepian lain danau. Sena masih sadar, mengedip-kedipkan matanya menatap langit yang cerah dan bulan sempurna yang menyinari tubuhnya dengan sinar sendu. Pedang dalam genggamannya mulai tak bisa dirasakan dan semua seakan hilang ditelan waktu. "Jadi seperti inikah akhir hidupku?" Gumamnya sambil menatap bulan yang terasa lebih besar dari biasanya itu. "Bulan yag indah" lanjutnya. Perlahan pandagannya kabur dan ia tak ingat lagi apa yang terjadi.

Saat pagi hari ia dibangunkan oleh sinar mentari yang memancar dari celah jendela. Dengan keadaan masih setengah sadar dia mencoba bangkit dari tidurnya. Ia mulai sadar dan terheran mengapa ia berada disebuah ruangan seperti gubuk yang seharusnya

Minggu, 17 Januari 2016

Jalak Anggun : CAP 3 ( Sena Jaya )

Sementara itu perang masih bergejolak di perbatasan. Ini adalah hari ke-15 perang berkecambuk. Siasat untuk menghadapi para pasukan berkuda berhasil melumpuhkan serangan. Namun prajurit-prajurit pelarian tumpah ke perkampungan rakyat. Para prajurit penjaga sudah diperintahkan  untuk meningkatkan kewaspadaan. Bersiap meghadapi semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Para pasukan pengejar pun dikerahkan.

Di sisi lain medan perang, sungguh banyak jiwa yang terbujur, memeluk bumi menyatu dangan tanah. Beberapa prajurit hingga bangsawan yang memiliki pengaruh di pemerintahan dan istana dalam pun menjadi korban. Dan entah kapan perang akan usai, yang membuat sang Raja sedikit risau. Raja Manik adalah satu-satunya Raja dari garis kepemimpinan Matraya yang tak pernah ikut berperang. Bahkan dikatakan beliau tak bisa menggunakan senjata. Meski demikian kabar lain yang beredar beliau bukan tidak bisa mengayun pedang atau menarik tali busur namun saat di medan perang beliau seperti singa yang mengamuk dalam

Kamis, 14 Januari 2016

Jalak Anggun : CAP 2 ( Sri )

Pertempuran hari ke-7 ini keadaan medan perang sudah semakin kacau. Pasukan Matraya semakin kewaahan menghadapi serangan pasukan berkuda Aganta yang memang terkenal pilih tanding. Dengan keadaan sepeti ini, Maha Patih Yudira Angkaria membuat siasat agar jalan utama menuju istana dikosongkan untuk memancinga serangan  musuh hanya ke satu titik saja.

Jalan utama menuju Istana yang dimaksud adalah jalan terbuka yang terbentang lurus membelah hutan Kinara tegak lurus dengan batas kedua wilayah kerajaan. Siasat yang dibuat Maha Patih adalah

Senin, 11 Januari 2016

Jalak Anggun : CAP 1 ( Sekar Aga )

Awal cerita ini dimulai pada masa pemerintahan Raja Manik Sudharma Raja dari kerajaan Martaka Kiraya Jaya atau kerajaan Matraya. Dalam 12 tahun kepemimpinannya beliau termasuk raja yang bijaksana dan cinta akan perdamaian.

Ini adalah hari ke-7 peperangan berlangsung. Peperangan antara Kerajaan Matraya dan Aganda yang merupakan dua kerajaan yang bertetangga. Meski bertetangga namun kehidupan terutama rakyat di kedua kerajaan ini sangatlah bertolak belakang. Matraya dengan