• Tepas
  • Action
    • Karya ini menggambarkan kekerasan, kekacauan dan aksi-aksi perkelahian.

  • Classic
    • Karya ini berbau masa lalu, sejarah, atau mengisahkan jaman kerajaan atau perjuangan.

  • Comedy
    • Karya dramatis berbau humoris dan ringan, mengandung pemecahan masalah, atau kesimpulan yang bahagia akan sebuah konflik.

  • Doujinshi
    • Karya ini dibuat berdasarkan suatu cerita, anime atau manga resmi tertentu namun memiliki jalan cerita yang berbeda dari cerita resminya. 'cerita buatan penulis berdasarkan cerita asli/resmi'

      .
  • Drama
    • Karya yang ditujukan untuk menarik emosional pembaca, seperti rasa sedih atau ketegangan.

  • Horror
    • Karya ini dipenuhi emosi semacam ketakut, kekhawatiran, dan kebencian. emosi yang ditimbulkan oleh sesuatu yang menakutkan atau mengejutkan.

  • |

  • Fiksisasi Hidup
    • Karya ini merupakan karya fiksi yang diangkat berdasarkan kehidupan penulis. tokoh dalam cerita ini merupakan tokoh yang memang ada di dunia nyata namun sifat tokoh terkadang dibuat berbeda dengan kenyataannya.

  • Narasisasi Lagu
    • Karya ini merupakan narasisasi dari sebuah lagu tertentu berdasarkan imajinasi penulis

Sabtu, 23 Januari 2016

Jalak Anggun : CAP 5 ( Dharma Citra )

Pagi hari sekali Sena sudah berlatih di tempat biasa ia melakukannya. Pedang rotan menemaninya dalam dingin udara yang menusuk sampai ke tulang. Cepat pulih, cepat kembali kedalam tugas dan melindungi hal-hal baru yang terasa berharga.

Menjelang terang, saat alam hanya terlihat kaki-kaki pohon saja, Anom melintas di belakang Sena yang sedang berlatih, membawa keranjang kosong berjalan ke belakan pulau. "kemana kah kau akan pergi?" Sena menghentikan ayunan pedang rotannya. "saya kira tuan tidak menyadari keberadaan saya.." Anom menahan langkahnya menanggapi pertanyaan Sena, "saya hendak pergi ke pasar untuk membeli beberapa bahan untuk dimasak" lanjutnya menjelaskan. Sena melangkah mendekat, "apakah kau tidak keberatan jika aku ikut untuk sekedar melihat-lihat?", Anom mengarahkan tatapannya ke arah Sena dengan tajam, sejenak seakan terheran lalu mengalihkannya. "bagi saya itu tidak masalah tapi bukankah tuan harus berlatih untuk bisa segera pulih dan kembali bertugas?" Sena terdiam mendengar perkataan Anom, ia menatap Anom setengah serius. "aa.. maaf bukan maksud saya meminta tuan segera pergi dari sini," Sena tersenyum. "Aku tahu, baik maksudmu mengatakan hal itu padaku. namun berlatih bukan hanya tentang kekuatan, namun juga perasaan. berjuang bukan hanya sekedar untuk menang, tapi untuk melindungi sesuatu. dan aku akan berlatih untuk mengerti apa yang harus kulindungi dalam perjuanganku".

Mereka berjalan sambil bercengkrama seperti seorang tuan yang baik hati dan pelayannya yang dihargai. "seberapa jauhkah perjalanan ini? aku tak pernah memperkirakannya. ternyata pulau ini cukup luas, tak seperti yang tertampak di muka", "sebentaar lagi tuan, sekitar 500 depaswa lagi kita akan sampai di ujung pulau dan setelah itu kita menyebrangi danau dengan rakit, sekitar 700 depaswa kita akan menepi di sebuah tepian niaga terapung. di sanalah kita akan menepi."jelas Anom. "sebenarnya aku tidak terlalu nyaman dengan penggilan tuan seperti itu, kita seumuran kan? dan lagi kau bukanlah pelayanku jadi apakah akan terasa sulit jika kau memanggilku selayaknya teman biasa?" Anom menghentikan langkahnya mendengar perkataan Sena, "tidak bisa tuan, derajat kita berbada, saya hanyalah rakyat jelata, sementara tuan adalah keturunan bangsawan. sudah selayaknya seorang rakyat biasa menghormati kaum bangsawan" menegaskan keadaan diantara mereka. "ya, aku tahu itu.. tradisi, kebiasaan, semua itu mengikat manusia untuk selalu terpaku pada tempat yang sama. padaha setiap manusia sama saja terlahir dari seorang ibu yang merupakan seorang perempuan, lantas dinding apa yang hendak memisahkan meraka?". "kekuasaan, tahta, derajat, kekayaan, memang semua itu tidak diberikan saat manusia dilahirkan,  namun saat mereka mendapatkannya dalam kehidupan, itulah yang membedakan yang satu dengan yang lain. tak bisa seorang raja disamakan dengan seorang biasa pembuat gerabah di desa. bukan dari sisi mereka sebagai manusia, namun pengaruh dan kedudukannya dalam masyarakat. saya tahu apa yang tuan maksudkan namun kita tidak dapat melanggar suatu kebudayaan atau kita akan disingkirkan oleh kebudayaan itu sendiri". Sena tertegun mendengar ucapan Anom yang tak pernah dipikirkannya sebelumnya.

Setelah lama menempuh perjalana akhirnya mereka sampai di sebuah pasar terapung di dekat tepian danau. sesampainya Anom lantas mencari bahan bahan yang dia butuhkan untuk persediaan.sementara itu Sena mencari apa yang sekiranya menarik untuk dimiliki. Sena terdiam di sebuah perahu pendagang perkakas dan senjata, ia tertarik pada belati kembar dengan sarung dihiasi batu indah. "berapa harga harga belati itu bu?" ucapnya bertanya. "itu cukup mahal anak muda, 4 keping emas untuk sebuah belati, sarungnya dibuat dari batu alam  yang sangat langka, itu yang membuatnya mahal. namun jika kau mau, kau bisa menukatnya dengan pedangmu itu" jelas penjual tersebut, "bolehkah jika saya melihatnya lebih dekat?" pedagang itu menatap Sena tajam, lalu memberikan satu diantara belati itu. "kau saudara jauh Sri Anom?" lanjut sang pedagang. Sena lalu menjelaskan bahwa dia hanya seorang yang kebetulan terluka dan diobati oleh Kakek dan Nenek Palah. dari sana barulah ia mengetahui bahwa Kakek Palah itu adalah Tetuah di desa itu dan merupakan mantan Abdi Kerajaan. Dan sebutan Sri untuk Anom Kencana adalah sebutan kehormatan untuk Anak/Cucu perempuan dari seorang Tetuah. ia juga diceritakan bahwa Sri Anom adalah anak yang luar biasa, di usianya yang masih sangat muda ia sudah sangat disegani karena pemikiran-pemikirannya di masyarakat yang mengubah pandangan hidup masyarakat namun ia sendiri tetap dalam kesederhanaan. Sena semakin kagum mendengar itu semua.

Setelah semua perbincangan itu Sena memutuskan untuk membeli sepasang belati itu "jadi 8 keping emas, saya ingin ini dibungkus dengan kain putuh" Ucapnya, Dengan ekspresi wajah yang tak hentinya terheran pedagang itu menuruti perkataan sena. benaknya apakah anak muda ini seorang putra tokoh masyarakat atau perampok hingga memiliki banyak uang seperti itu. tak lama Anom Kencana menghampiri Sena, "mari tuan, saya sudah selesai." ajak Anom. Sena mengangguk.. "tuan?" gumam pedagang itu, terheran."beliau adalah prajurit muda istana.." jawab Anom Kencana, Tersenyum. pedagang itu lantas bersimpu "maafkan hamba atas ketidak sopanan hamba tadi tuan.. ampuni hamba" itu membuat seluruh pasar hening, perhatian tertuju pada mereka, antara takut, segan, dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Sena memegang pundak ibu setengah baya itu lantas berkata "bangunlah, jangan seperti ini, di sini saya hanya seorang rakyat biasa, tidak ada bedanya dengan yang lain." Anom Kencana tersenyum seakan mendapatkan sebua jawaban. mereka berpamitan dengan sopannya. seluruh isi pasar bergemuruh berbicara tentang hari itu namun mereka tak perduli.

Di hutan setelah menepi dari danau Sena terdiam membuat Anom bertanya-tanya apakah ada yang salah. "terimakasih" ucap Sena tiba-tiba. Anom terheran tak mengerti. "kini aku sudah sedikit mengerti, apa yang harus kulindung dalam hidupku" Anom hanya tersenyum, dan berjalan, setelah beberapa langkah ia berkata "terkadang semut penjaga terlihat bodoh saat mereka melindungi ratu yang bahkan tak memiliki taring untuk menyakitui mereka.  atau semut pengasuh yang seakan tak kenal lelah menggendong telur-telur calon anak sang ratu. juga semut pencari yang mencari makan untuk penguasanya yang bahkan sang ratu hanya bisa terdiam lemah di sebuah ruang khusus dan tak bisa keluar. namun itu bukan sebuah kebodohan, itulah bentuk sebuah kesetaian dalam pengabdian." jelasnya. Sena tersenyum, lantas ia menyerahkaan sesuatu dengan bungku kain putih pada Anom. "ambilah, dan simpan ini baik-baik". "tapi tuan.. saya.." . "aku memaksa." Ucap Sena, dan berlalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar